Minggu, 04 Desember 2011

PENGKAJIAN FISIK PADA SISTEM PENGINDERAAN THT

PEMBAHASAN

1. Telinga
Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga keseimbangan. Menurut struktur anatominya telinga dapat di bagi menjadi tiga bagian, yaitu teling luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Pengkajian telinga secara umum bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga luar , saluran telinga, gendang telinga/ membran timpani, dan pendengaran. Alat – alat yang perlu dipersiapkan dalam pengkajian telinga antara lain otoskop, garpu tala, dan arloji.
Inspeksi dan palpasi
1. Bantu pasien dalam posisi duduk. Pasien yang masi anak – anak dapat diatur duduk dipangkuan orang lain.
2. Atur posisi anda duduk menghadapi sisi telinga pasien yang akan dikaji.
3. Untuk pencahayaan gunakan auriskop, lampu kepala, ayau sumber cahaya yang lain sehingga tangaan anda akan bebas bekerja.
4. Mulai amat teling luar, periksa ukuran, bentuk, warna, lesi, dan adanya massa pada pinna.
5. Lanjutkan pengkajian palpasi dengan cara memegang telinga dengan ibu jari dan jari telunjuk.
6. Palpasi kartilago telinga luar secara sistematis yaitu dari jaringan lunak, kemudian jaringan keras, dan catat bila ada nyeri.
7. Tekan bagian tragus kedalam dan tekan pula tulang telinga di bawah daun telinga. Bila ada peradangan, pasien akan merasa nyeri.
8. Bandingkan telinga kiri dan telinga kanan.
9. Bila diperlukan, lanjutkan pengkajian telinga bagian dalam.
10. Pegang bagian pinggir daun telinga/heliks dan secara perlahan – lahan tarik daun telinga ke atas dan kebelakang sehingga lubang sehingga lubang telinga menjadi lurus fan mudah di amati.
11. Amati pintu masuk lubang telinga dan perhatikan ada tidaknya peradangan,perdarahan, atau kotoran.
12. Dengan hati – hati masukkan oyoskop yang menyala ke dalam llubang telinga.
13. Bila letak otoskop sudah tepat rahkan mata anda pada eyepiece.
14. Amati adanya kotoran, serumen, peradangan atau adanya benda asing pada dinding lubang telinga.
15. Amati benttuk, warna, transparansi, kilau, perforasi, atau adanya darah/cairan pada membrane timpani.

Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui fungsi telinga. Secara sederhana pendengaran dapat diperiksa dengan menggunakan suara bisikan. Pendengaran yang baik akan akan dengan mudah mengetahui adanya bisikan. Bila pendengaran dicurigai tidak berfungsi baik, pemeriksaan yang lebih teliti dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan garpu tala atau tes audimetri.

2. Hidung
Hidung dikaji dengan tujuan untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung. Pengkajian hidung dimulai dari bagian luar, bagian dalam, kemudian sinus – sinus. Pasien dipersiapkan dalam posisi duduk bila memungkinkan. Peralatan yang dipersiapkan antara lain otoskop, speculum hidung, cermin kecil, dan sumber penerangan/lampu.


Inspeksi dan palpasi
Cara inspeksi dan palpasi hidung bagian luar serta palpasi sinus – sinus.
1. Duduk menghadapi pasien.
2. Atur penerangan dan amati hidung bagian luar dari sisi depan, samping, dan atas. Perhatikan bentuk atau tulang hidung dari keriga sisi ini.
3. Amati warna dan pembekakan pada kulit hidung.
4. Amati kesimetrisan lubang hidung.
5. Lanjutkan dengan melakukan palpasi hidung luar dan catat bila ditemukan ketidaknormalan kulit atau tulang hidung.
6. Kaji mobilitas septum nasi.
7. Palpasi sinus maksilaris, frontalis, dan etmoidalis. Perhatikan adanya nyeri tekan.

Untuk dapat melakukan inspeksi hidung bagian dalam, ada berapa yang diperlukan antara lain otoskop, speculum hidung, cermin kecil, dan lampu.
Cara inspeksi hidung bagian dalam:
1. Duduk menghadap pasien.
2. Pasang lampu kepala
3. Atur lampu sehingga tepat menerangi lubang hidung.
4. Elevasikan ujung hidung pasien dengan cara menekan menekan hidung secara lembut dengan ibu jari anda, kemudian amati bagian anterior lubang hidung.
5. Amati posisi septum nasi dan kemungkinan adanya perfusi
6. Amati bagian konka nasalis inferior
7. Pasang ujung speculum hidung pada lubang hidung sehingga rongga hidung dapat diamati
8. Untuk memudahkan pengamatan pada dasar hidung atau posisi kepala sedikit menegadah
9. Dorong kepala menengadah sehingga bagian atas rongga hidung mudah di amati
10. Amati benruk dan posisi septum, kartilago, dan dinding – dinding rongga hidung (warna, sekresi, bengkak)
11. Bila sudah selesai lepas speculum secara perlahan – lahan.

3. Mulut dan Faring
Pengkajian mulut dan faring dilakukan dengan posisi pasien duduk. Pencahayaan harus baik sehingga semua bagian mulut dapat diamati dengan jelas. Pengkajian dimulai dengan mengamati bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lender, pipi bagian dalam lantai dasar mulut, dan platum/ langit – langit mulut kemudian faring.
Inspeksi
1. Bantu pasien duduk berhadapan dan tinggi yang sejajar dengan anda
2. Amati bibir untuk mengetahi adanya kelainan congenital bibir sumbing, warna bibir, ulkus ,lesi, dan massa.
3. Lanjutkan pengamatan pada gigi dan anjurkan pasien membuka mulut
4. Atur encahayaan yang memadai dan bila dioerlukan gunakan penekan lidah agar gigi akan akan tampak lebih jelas
5. Amati posisi, jarak, gigi rahang, atas dan bawah, ukuran, warna, lesi, atau adanya tumor pada setiap gigi. Amati juga akar- akar gigi dan gusi secara khusus.
6. Periksa setiap gigi dengan cra mengetuk secara sistematis, bandingkan gigi bagian kiri, kanan, atas, dan bawah serta anjurkan pasien untuk member tahu bila merasa nyeri sewaktu giginya
7. Perhatikan pula cirri – cirri umum sewaktu melakukan pengkajian antara lain kebersihan mulur dan bau mulut.
8. Lanjutkan pengamatan pada lidah dan perhtikan kesimetrisannya. Minta pasien menjulurkan lidah dan amati kelurusan , warna, ulkus, dan setiap ada kelainan
9. Amati warna, adanya pembengkakan , tumor, sekresi , peradangan pada selaput lender semua nagian mulut secara sistemis
10. Beri kesempatan pasien untuk istirahat dengan menutup mulut sejenak bila capai, lalu lanjutkan insfeksi faring dengan menganjurkan pasien membuka mulut dan menekan lidah pasien berkata “ah”. Amati kesimetrisan uvula faring.

Palpasi
Palpasi pada pengkajian mulut dilakukan terutama bila dari inspeksi belum diperoleh data yang meyakinkan . tujuan palpasi pada mulut terutama adalah mengetahui dengan palpasi, yang meliputi pipi, dasar mulut, palatum, dan lidah. Palpasi harus dilakukan secara hati – hati dan perlu di upayakan agar pasien tidak muntah.
Cara palpasi mulut
1. Atur posisi pasien duduk menghadap anda
2. Anjurkan pasien membuka mulut
3. Pegang pipi di antara ibu jari ddan jari telunjuk *jari telunjuk berada di dalam ). Palpasi pipi secara sistematis dan perhatikan adanya tumor atau pembengkakan. Bila ada pembengkakan , tentukan menurut ukuran , konsistensi, hubungan dengan daerah sekitarnya, dan adanya nyeri
4. Lanjutkan palpasi pada palatum pada jari telunjuk dan rasakan adanya pembekakan dan fisura
5. Palpasi dasar mulut dengan cara meminta pasien mengatakan “el” kemudian lakukan palpasi pada dasar mulut secra sistemis dengan jari telunjuk tangan kanan. Bila diperlukan , beri sedikit penekanan dengan ibu jari dari bawah daguuntuk mempermudah palpasi .
6. Palpasi lidah dengan cara memita pasien menjulurkan lidah, pegang lidah dengan kasa steril menggunakan tangan kiri. Dengan jari telunjuk tangan kanan, lakukan palpasi lidah terutama bagian belakang dan batas – batas lidah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar