Sabtu, 14 Agustus 2010

ASKEP KELUARGA DENGAN BALITA

KONSEP KELUARGA
1. Pengertian
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 1998).
Keluarga adalah kumpulan dua atau lebih individu yang berbagi tempat tinggal atau berdekatan satu dengan lainnya; memiliki ikatan emosi; terlibat dalam posisi sosial; peran dan tugas-tugas yang saling berhubungan; serta adanya rasa saling menyayangi dan memiliki (Murray & Zentner, 1997 dan Friedman, 1998 dalam Allender & Spradley, 2001).
Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1994 Bab I ayat 1 keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.
2. Persepsi keluarga
Persepsi adalah interpretasi yang tinggi terhadap lingkungan manusia dan mengolah proses informasi tersebut “Human interpret their surroundings on a higher percive their word through information processing” (Wilson. D, 2000). Sedangkan pendapat Maramis (1998), persepsi adalah daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah pancainderanya mendapat rangsang. Jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi keluarga merupakan suatu interpretasi yang dimiliki oleh keluarga terhadap obesitas yang dialami oleh anak sekolah dasar.
Menurut Rahmat (2005) ada beberapa faktor personal yang mempengaruhi persepsi interpersonal yaitu:
1. Pengalaman seseorang yang telah mempunyai pengalaman tentang hak-hak tertentu akan mempengaruhi kecermatan seseorang dalam memperbaiki persepsi
2. Motivasi yang sering mempengaruhi persepsi interpersonal adalah kebutuhan untuk mempercayai “dunia yang adil” artinya kita mempercayai dunia ini telah diatur secara adil
3. Kepribadian. menurut psikoanalisis dikenal sebagai proyeksi yaitu usaha untuk mengeksternalisasi pengalaman subyektif secara tidak sadar, orang mengeluarkan perasaan berasalnya dari orang lain.

3. Bentuk Dukungan Keluarga

Menurut Friedman (1998) dukungan keluarga dapat diberikan dalam beberapa bentuk, yaitu:
1. Dukungan informasional
2. Dukungan penghargaan
3. Dukungan instrumental
4. Dukungan emosional.

Keluarga dengan tingkat stress tinggi perlu mendapat dukungan agar bisa mengelola stress dan mengasuh anak mereka dengan baik (Kompas, 24 Januari 2009). Felix- Sebastian Koch dan Timnya dari Universitas Linkping mengevaluasi tingkat stress 7.443 keluarga di Swedia mulai anak-anak mereka lahir sampai usia 5-6 tahun. Hasilnya, anak dari keluarga dengan tingkat stress tinggi beresiko dua kali lebih tinggi mengalami obesitas ketimbang yang berasal dari keluarga dengan tingkat stress rendah. Menurut Felix-Sebastian Koch, tidak semua keluarga bisa mengelola stress dengan baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga harus memberikan dukungan yang positif dan keluarga tidak mengalami stress yang dapat menyebabkan anak obesitas.

4. Sumber Dukungan Keluarga
Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan sosial keluarga internal, seperti dukungan dari suami/istri, atau dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal bagi keluarga inti (dalam jaringan kerja sosial keluarga). Sebuah jaringan sosial keluarga secara sederhana adalah jaringan kerja sosial keluarga itu sendiri (Friedman, 1998).
Lima fungsi dasar keluarga yang dikemukakan oleh Friedman (1998) yaitu:
1. Fungsi Afektif
2. Fungsi Sosialisasi
3. Fungsi Ekonomi
4. Fungsi Reproduksi dan
5. Fungsi Perawatan Kesehatan.
Keluarga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan keperawatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan / atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga.
Berikut ini tugas keluarga menurut Friedman (1998), adalah sebagai berikut:
1. Mengenal masalah kesehatan
2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
3. Melakukan perawatan
4. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
5. Mempertahankan hubungan dengan menggunakan fasilitas kesehatan masyarakat.
5. Struktur Kekuatan Keluarga
Menurut Friedman (1998) terdapat struktur kekuatan keluarga yaitu terdiri dari pola dan proses komunikasi dalam keluarga, struktur peran, struktur kekuatan keluarga dan nilai-nilai dalam keluarga. Keluarga yang mempunyai struktur kekuatan keluarga yang masing-masing berjalan dengan baik maka sistem akan berjalan dengan baik.
Komunikasi yang ada dalam keluarga diharapkan terbuka antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, selalu menyelesaikan konflik dengan musyawarah mufakat, selalu berfikir positif terhadap anggota keluarga lain. Peran keluarga setiap anggota keluarga juga dapat berfungsi dengan baik. Ayah sebagai kepala keluarga maka dia yang berperan untuk mengatur semua anggota keluarga dan tanpa meninggalkan komunikasi dengan istri dan anak-anaknya. Demikian juga peran ibu dan anak yang menjalan peran sesuai dengan posisinya masing-masing dalam keluarga.
Struktur kekuatan dalam keluarga memegang penting untuk mempengaruhi anggota keluarga. Orang tua mempunyai pengaruh untuk mempengaruhi anak-anaknya untuk makan makanan yang sehat dan bergizi. Setiap keluarga juga mempunyai nilai-nilai yang dianut oleh keluarga. Nilai-nilai ini menjadi pedoman keluarga sebagai suatu sistem.









KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA
1. Pengkajian
A. Identitas Keluarga
a. Data Kepala Keluarga
 Nama : Tn. Am
 Umur : 39 thn
 Agama : Islam
 Pendidikan terakhir : SMA
 Pekerjaan : Buruh bangunan
 Suku/Bangsa : Bugis
 Alamat : Jl. Poltek Tamalanrea

b. Data Anggota Keluarga
No Nama Anggota keluarga JK / Umur Hubungan dgn keluarga
1 Ny. An P 35 Thn Istri
2 Najam L 17 Thn Anak
3 Junet L 14 Thn Anak
4 Eka Puspita P 2.5 Thn Anak
c. Genogram
Keterangan :
= Laki – laki
= Perempuan
= Klien / Balita




d. Keadaan Riwayat Kesehatan Keluarga (satu tahun terakhir)
Dalam kurung waktu satu terakhir, keadaan kesehatan keluarga tidak terlalu begitu sulit dihadapi oleh keluarga. Kejadiannnnya terjadi pada anak ketiga/balita yaitu dengan diare.

B. Struktur dan sifat keluarga

a. Pola dan kebiasaan makan
Dalam kebiasaan keluarga selalu makan tiga kali dalam sehari. Biasa Pagi, siang dan malam.
b. Kebiasaan tidur
Keluarga selalu tidur seperti biasa, yaitu mulai jam 23.00 s/d 05.00

C. Personal Hyegiene keluarga

Personal Hyegine keluarga baik, tp sedikit bermasalah pada anak balita disebabkan karena kesibukan orang tua.

D. Keadaan lingkungan

a. Perumahan
Jenis rumah yang dimiliki yaitu semi permanen, memiliki ventilasi dan pencahayaan yang bagus. Pekarangan rumah dimanfaatkan dengan baik yaitu untuk ditanami bunga.
b. Sumber air minum
Sumber air yang dipake keluarga sumur tembok, kondisi fisik air tidak berbau, tidak berasa dan tidak keruh, tp keluarga selalu menggunakan air gallon untuk minum. Jarak sumur dengan rumah 5 meter.
c. Tempat pembuangan tinja
Keluarga membuang tinja di jamban, keluarga memiliki jamban yang berleher angsa.


E. Status kesehatan keluarga

Dari data hasil Tanya jawab dengan keluarga, keluarga mengatakan :
 Keluarga mengatakan bahwa anak perlu diimunisasi
 Keluarga pernah membawa anaknya keposyandu
 Imunisasi yang sudah diperoleh balita keluarga/ibu tidak tahu dan KMS balita juga telah hilang.

F. Pemberian ASI balita

Dari pernyataan keluarga mengatakan pada saat anak berumur bayi ibu selalu memberikan ASI ibu sampai anak berumur 1,2 tahun setelah itu dibarengi dengan makanan tambahan.

G. Status kehamilan dan persalinan

a. Kehamilan
Pada saat kehamilan terajhir, ibu hanya satu kali memeriksakan kehamilannya di petugas kesehatan (bidan) dan bentuk pelayanan yang didapatkan pada waktu pemeriksaan antara lain : Timbang berat badan, Diukur tinggi badan, dan diperiksa Tekanan darah.
b. Persalinan (Post-partum)
Pada saat melahirkan ibu ditolong oleh dukun terlatih, dan tempat ibu melakukan persalinan yaitu dirumah sendiri. Anak pada usia neonates (1-7 hari) tidak pernah diperiksa oleh tenaga kesehatan.




2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
 Perubahan hubungan keluarga b/d ketidakmampuan keluarga merawat anak yg sakit berat
Intervensi yang diberikan :
Diskusikan ttg tugas keluarga

 Hubungan keluarga tdk harmonis b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah yg terjadi pd anak
Intervensi yang diberikan :
Diskusikan penyebab ketidakharmonisan

 Kurang meningkatnya kemandirian anak b/d kurang didikan orang tua
Intervensi yang diberikan :
Identifikasi sumber dukungan yg ada

 Kurang pemeliharaan kesehatan anak yang optimal b/d tingginya aktifitas orang tua
Intervensi yang diberikan :
Ajarkan cara merawat anak dan Bantu keluarga mengenali kebutuhan anggota keluarga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar