Selasa, 10 Agustus 2010

AIDS (Aquired Immune Defisiensi Syndrom)

BAB I
PENDAHULUAN


AIDS (Aquired Immune Defisiensi Syndrom) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi kuman Human Immunodeficiensy Virus (HIV). Penyakit ini biasanya dicirikan dengan timbulnya penyakit infeksi, bakteri, jamur, parasit, dan virus yang bersifat oppurtunistik atau keganasan seperti sarkoma kaposi dan limfoma primer diotak. Dengan adanya penyakit-penyakit tersebut, meskipun hasil pemeriksaan laboratorium untuk infeksi HIV belum dilakukan atau tidak dapat diambil kesimpulan. Akan tetapi diagnosis AIDS tetap dapat ditegakan.

BAB II
PEMBAHASAN


1. Sebab Terjadi AIDS
AIDS disebabkan oleh beberapa cara penularan antara lain;
a) Hubungan seksual baik secara vagina, oral maupun anal dengan seorang pengidap. Ini merupakan cara penularan yang sering terjadi, yang meliputi 80 – 90%.
b) Kontak langsung dengan darah, produk darah atau jarum suntik. Transfusi darah atau produk darah yang tercemar mempunyai resiko sampai > 90%. Ditemukan 3-5 % total kasus sedunia. Pemakaian jarum suntik yang tidak steril atau pemakaian jarum suntuk bersama spuitnya pada pecandu narkotika beresiko 0,5-1 % ditemukan 5-10 % total kasus sedunia. Penularan melalui kecelakaan termasuk jarum pada petugas kesehatan mempunyai resiko 0,5 % dan mencakup < 0,1 %. c) Transmisi secara vertikal dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya melalui placenta. Resiko penularan dengan cara ini 25-40 % dan terdapat lebih kecil 0,1 % total kasus sedunia. 2. Struktur (DNA/RNA) Setelah HIV masuk kedalam tubuh, virus menuju ke kelenjar limfe dan berada dalam sel dendritik selama beberapa hari. Kemudian terjadi sindrom retroviral akut seperti flu (serupa infeksi mononukleosis) disertai viremia hebat dengan keterlibatan berbagai kelenjar limfe. Pada tubuh timbul respon imun humoral maupun selular. Syndrom ini akan hilang sendiri setelah 1 – 3 minggu. Kadar virus yang tinggi didalam darah dapat diturunkan oleh sistem imun tubuh. Proses ini berlangsung berminggu-minggu sampai terjadi keseimbangan antara pembentukan virus baru dan upaya eliminasi oleh respon imun. Keseimbangan yang disebut set point ini penting karena menenukan perjalanan penyakit selanjutnya. Bila tinggi, perjalanan penyakit menuju AIDS akan berlangsung lebih cepat. Serokonversi (perubahan aantibody negatif menjadi positif terjadi 1-3 bulan setelah infeksi, terapi pernah juga dilaporkan delapan bulan. Kemudian klien akan memasuki masa tanpa gejala, dalam masa ini terjadi peenurunan bertahap jumlah CD4 (jumlah normal 800-1000/mm3) yang terjadi setelah replikasi persistem HIV dengan kadar RNA virus relatif. CD4 adalah reseptor pada limfosit T4 yang terjadi target sel utama HIV. Pada awalnya penurunan jumlah CD4 sekitar 30-60/mm3/tahun, tetapi pada dua tahun terakhir penurunan jumlah menjadi 50-100/mm3/tahun sehingga bila tanpa pengobatan rata-rata masa infeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah 8-10 tahun, dimana jumlah CD4 akan mencapai > 200/mm3.

3. Jenis Virus
HIV/AIDS peratama kali ditemukan oleh Dr. Luc Montagnier dkk dari Institut Pasteur Prancis tahun 1983 dengan nama Lymphadenophaty Assiciated Virus (LAV). Pada tahun 1984 Dr. Robert Gavo di Lembaga Kanker nasional (NIC) USA juga menemukan virus dengan nama Human T – Lymphocite Virus tipe (HTLV III). Pada tahun 1984 juga oleh J. Levy menemukan virus penyebab AIDS dengan nama AIDS Related Virus (ARV). Diperkirakan AIDS juga sudah berkembang meluas pada akhir tahun 70-an didaerah Sub-Sahara Aafrika. Pada tahun 1986 Komisi Taksonomi Internasional memberikan nama HIV sebagai penyebab AIDS.

4. Mengapa therapi AIDS hingga saat ini belum mencapai 100 % ?
Karena gejala infeksi HIV pada awalnya sulit dikenali, karena seringkali mirip penyakit ringan sehari-hari seperti flu dan diare sehingga penderita tampak sehat. Kadang-kadang dalam enam minggu pertama setelah kontak penularan timbul gejala tidak khas berupa demam, rasa letih, sakit sendi, skait menelan dan pembengkakan kelenjar getah bening di bawah telinga, ketiak dan selangkangan. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dan sampai 4-5 tahun mungkin tidak muncul gejala. Pada tahun ke-5 atau ke-6, tergantung masing-masing penderita, mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut dan pembengkakan di daerah kelenjar getah bening. Kemudian tahap lebih lanjut akan terjadi penurunan berat badan secara cepat (> 10 persen), diare terus-menerus lebih dari satu bulan disertai panas badan yang hilang timbul atau terus menerus. Dalam masa sekitar tiga bulan setelah tertular, tubuh penderita belum membentuk antibodi secara sempurna, sehingga tes darah tidak memperlihatkan orang itu telah tertular HIV. Masa tiga bulan itu sering disebut dengan masa jendela. Jika tes darah sudah menunjukkan adanya anti bodi HIV dalam darah, artinya positif HIV, penderita memasuki masa tanpa gejala (5-7 tahun). Tapi, pada masa ini tidak timbul gejala yang menunjukkan orang itu menderita AIDS, atau dia tetap tampak sehat. Hingga kemudian, penderita memasuki masa dengan gejala yang sering disebut masa sebagai penderita AIDS. Gejala AIDS sudah timbul dan biasanya penderita dapat bertahan enam bulan sampai dua tahun dan kemudian meninggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar