Selasa, 07 Desember 2010

URETRITIS NON GONOKOKAL

Definisi
Uretritis non gonokok (UNG) atau NonGonococal Uretrhritis (NGU) adalah peradangan dari uretra yang disebabkan oleh kuman lain selain gonokok dan biasanya disebabkan oleh C. trachomatis.
Etiologi
Uretritis adalah jenis penyakit menular seksual yang paling sering di jumpai pada pria. Manifestasi penyakit ini adalah keluarnya discar tubuh (sekret/cairan) dari urethra. Penyebab penyakit ini terbagi dalam dua golongan besar yaitu kuman Gonokokal (Neisseria gonnoreae) dan non Gonokokal. Angka kejadian kedua penyakit ini hampir sama tinggi pada pria-pria yang datang ke dokter dengan penyakit menular seksual. Sekitar 30–40% infeksi non Gonokokal disebabkan oleh C.trachomatis. Selain itu Virus Herpes Simplek dan Trichomonas dan Vaginalis juga banyak dijumpai.
Penyakit AIDS mungkin menjadi jenis penyakit yang diakibatkan hubungan seksual paling ditakuti di dunia, tetapi ada jenis penyakit yang akibat hubungan seksual yang paling umum yang seringkali banyak orang mengidapnya tidak mengetahui yaitu Chlamydia.
Menurut The Center For Deseases Control and Prevention (CDC) di Atlanta mengatakan Chlamyda adalah infeksual sexual yang paling sering terjadi di Amerika (diperkirakan 3 juta orang Amerka mengidap penyakit ini setiap tahun dan sebagian besar berumur 15 dan 24 tahun). Chlamydia disebabkan melalui hubungan seksual, tetapi bukan sebagai virus, seperti kebanyakan penyakit akibat hubungan seksual lain. Ini disebabkan oleh suatu bakteri yang disebut Chlamydia.
Patofisiologi
Telah terbukti bahwa lebih 50% dari pada semua kasus urethritis non gonoroe disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. C.trachomatis merupakan parasit intra obligat, menyerupai bakteri Gram negative. C.trachomatis penyebab uretritis non gonoroe ini termasuk subgrup A dan mempunyai tipe serologik D-K. Pada dasarnya kuman ini mempunyai predileksi pada epitel kolumner yang pada pria merupakan sebagian besar epitel mukosa urethra. Penis dengan urethranya merupakan organ penting dalam senggama. Discar urethra sebagai gejala utama dan sekaligus merupakan sumber dan sarana penularan/ transmisi penyakit menular seksual. Infeksi Chlamydia pada urethra mengakibatkan peradangan urethra atau uretritis menular seksual (UMS) aau STU (Sexually Transmitted Urethritis). Respon inipun mengakibatkan timbulnya peradangan ringan sampai berat. Akibat peradangan pada urethra terjadi keluhan atau symptoms dan tanda-tanda (sign) urethritis seperti dysuria (urethral dyscomfort) adalah rasa tidak nyaman, gatal, sakit atau rasa panas saat kencing. Dalam perkembangan C.trachomatis mengalami 2 fase:
Fase I : Disebut fase non infeksiosa, terjadi keadaan laten yang dapat ditemukan baik pada genitalia maupun konjungtiva. Pada saat ini kuman sifatnya intraseluler dan ada di dalam vakuol yang letaknya melekat pada inti sel hospes dan disebut badan inklusi.
Fase II: Fase penularan vakuol pecah kuman keluar dalam bentuk badan elementer yang dapat menimbulkan infeksi pada sel hospes yang baru.
Komplikasi infeksi kelamin non spesifik pada pria dapat menjalar ke prostat dan menimbulkan infeksi, selain membuat radang testis dan saluran kemih. Penjalaran infeksi ke testis berakibat terganggunya produksi sperma, sehingga mutu sperma tidak baik, dan sebaran pada prostat menimbulkan infeksi yang sulit dalam penyembuhannya. Sedang menyebarnya infeksi saluran kemih, menyebabkan pancaran urin bercabang akibat dinding uretra mengecil sebagian, sehingga bentuknya tidak bulat lagi.
Komplikasi pada wanita bisa menginfeksi kelenjar yang ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar itu perlu disedot, sebab tak mempan dengan obat. Komplikasi pada wanita sering menimbulkan radang pada servik. Infeksi kelamin non spesifik pada wanita sering tanpa keluhan maupun gejala. Itu sebabnya tidak mudah untuk mendiagnosisnya. Wanita merasa tidak mempunyai penyakit kelamin, padahal kalau di periksa lendir serviknya ternyata dia punya. Biasanya mereka cuma merasa tidak enak waktu kencing, keluar sedikit lendir, sesekali rasa tidak enak di panggul, dan mungkin akan merasa nyeri kalau melakukan hubungan seks. Bila tidak diobati organ reproduksi dan perut bagian bawah akan terasa sakit juga terjadi PID (radang panggul) dimulai dengan proses peradangan pada serviks karena adanya infeksi gonokokal atau klamidia yang menyababkan perubahan lingkungan mikro serviko vaginal mengakibatkan pertumbuhan subur bagi flora fakultatif vagina termasuk kuman anaerob. Akhirnya kuman patogen servikal/ dari bakteri anaerob vaginal naik ke atas kedalam endometrium , tuba dan ruang peritoneum menyebabkan terjadinya radang panggul.
Gejala Klinis
Syndrom Uretritis menular seksual dapat lengkap berupa keluhan dysuria dan tanda-tanda berupa descar uretral. Pada peradangan ringan dapat tanpa gejala dan tanda-tanda peradangan (asimtomatik). Pada peradangan yang sedang sindrom urethritis menular seksual tidak lengkap., hanya dysuria saja atau hanya sedikit discar (berupa bercak di celana dalam saat bangun tidur). Sama seperti gonore, perbedaannya adalah banyak pada perempuan yeng terinfeksi tidak menunjukan gejala apapun. Komplikasi yang menyebabkan kemandulan pada perempuan juga sering terjadi. Infeksi mata mungkin menyerang bayi yang dilahirkan oleh perempuan yang terinfeksi diagnosis biasanya didasari oleh tidak adanya kuman penyebab gonore pada smear atau pada pembiakan cairan dari leher rahim atau uretra. Hal ini bisa dipastikan dengan mengetes cairan smear untuk melihat adanya antigen klamidia. Gejala pada pria biasanya baru timbul setelah 1–3 minggu kontak seksual dan umumnya tidak seberat gonoroe. Gejalanya berupa dysuria ringan, perasan tidak enak diurethra, sering kencing dan keluarnya discar tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan gonoroe perjalanan penyakit lebih lama karena masa inkubasi yang lebih lama dan ada kecenderungan untuk kambuh lagi. Pada beberapa keadaan tidak terlihat keluarnya cairan duh tubuh, sehingga menyulitkan diagnosis. Dalam keadaan demikian pemeriksaan laboratorium diperlukan sekali. Komplikasi dapat terjadi berupa prostatitis, vesikulitis, epididimitis, dan striktur urethra. Sedangkan pada wanita infeksi lebih sering terjadi di serviks dibandingkan dengan di vagina, kelenjar Bartholin atau uethra sendiri. Sama seperti gonoroe umumnya wanita tidak menunjukkan gejala. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, dysuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis dan disparenia. Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya folikel-folikel kecil yag mudah berdarah. Sedangkan komplikasi dapat berupa Borthlinitis, praktitis, salpingitis, dan sistitits. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah dilaporkan.
Diagnosis
Diagnosis ditegakan atas dasar gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu harus disingkarkan kuman spesifik seperti gonokok, Trichomonas vaginalis, dan Candida albicans. Pemeriksaan discar tubuh meliputi keadaan cairan yang keluar dari urethra (keruh dan jernih) dan pemeriksaan dengan mikroskop untuk menentukan ada kuman atau tidak. Bila ada kuman dalam sediaan discar tubuh tersebut. Kemudian dilakukan identifikasi kuman untuk menentukan jenis pengobatan yang sesuai. Pemeriksaan ini wajib dilakukan sebelum dilakukan suatu kumpulan pengobatan. Sering kali terjadi kesalahan dalam pemberian obat tanpa dipastikan dahulu kuman penyebabnya. Kesalahan ini dapat menimbul kan suatu komplikasi yang berat seperti timbulnya kekebalan kuman tehradap suatu jenis obat. Komplikasi akan menimbulkan kesulitan pengobatan berikutnya. Pada keadaan fasilitas yang cukup dapat dilakukan biakan untuk chamlidia trachomatis pada kuning telur embrio ayam atau dengan Coy Cell, dilanjutkan dengan pemeriksaan imunofluorensi untuk menentukan serotipenya. Untuk laboratorium dengan fasilitas yang terbatas, kriteria diagnostik berdasarkan jumlah sel PMN (Polimorfonuklear) pada sediaan apus discar tubuh. Adanya urethritis dapat dikonfirmasi dengan peningkatan jumlah PMN. dalam pemeriksaan mikroskopik sediaan discar atau usapan endouretral. Saat ini dipakai cut-off point 5 per lapangan pandang dengan perbesaran kuat (1000x) diplokok gram negatif intra sel (DGNI) yang berwarna merah. Chlamydia tidak terlihat dengan mikroskop biasa. Dengan demikian diagnosis uretritis gonoroe dapat ditegakkan bila terdapat DGNI, dan secara ekslusi diagnosis presumtif Urethritis non Gonoroe dapat disimpulkan dengan ekslusi urethritis gonoroe, bila tidak terlihat DGNI, dalam artian Urethritis non gonoroe apabila PMN > 5, DGNI negatif. Dalam melakukan pemeriksaan terhadap alat kelamin yang terinfeksi penting pula untuk memperhatikan ada atau tidaknya komplikasi organ-organ lain karena hal ini akan sangat menentukan keberhasilan pengobatan yang akan diberikan kemudian.
Penatalaksanaan
Sekalipun pernah diobati, seperlima kasus infeksi kelamin non-spesifik bisa kambuh. Untuk mengobatinya tidak cukup lima hari seperti pada infeksi pertama, melainkan sampai tiga minggu minum obat tanpa putus, selama pengobatan dan belum dinyatakan sembuh, suami dilarang berhubungan intim dengan isteri. Obat yang efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin, thiampenicol, azitromisin. Di samping itu dapat juga dengan gabungan sulfa – trimetroprim, spiramisin dan kuinolon.
Dosisnya:
Tetrasiklin HCl: 4 x 500mg/hari selama 1 minggu, atau 4 x 250mg sehari selama 2 minggu.
Tetrasiklin HCl: 4 x 250 mg sehari selama 2 minggu
Doksisiklin: Dosis pertama 200 mg dilanjutkan 2 x 100 sehari
Minosiklin: Dosis pertama 200 mg dilanjutkan 2 x 100 mg
sehari selama 1–2 minggu..
Eritromisin: Untuk penderita yang tidak tahan tetrasiklin atau
Wanita hamil, 4 x 500 mg sehari selama 1 minggu atau 4 x 200 mg sehari selama 2 minggu.
Sulfa – trimetropirim: 2 x 2 tablet sehari selama seminggu
Spiramisin : 4 x 500 mg sehari selama seminggu
Ofloksain : 2 x 200 mg sehari selama 10 hari.
Azitromisin : 1x 500 mg/ hari selama 3 hari.
Prognosis
Berbeda dengan penyakit kelamin umumnya yang kalau sudah sembuh tidak kambuh lagi, infeksi genital non-spesifik bisa kambuh , terutama jika tidak diobati. Sebagian besar kasus, tanpa diobati memang bisa menyembuh sendiri. Namun dalam beberapa bulan kambuh, bahkan sering disertai komplikasi. Kadang-kadang tanpa pengobatan penyakit lambat laun berkurang dan akhirnya sembuh sendiri (50–20%) dalam waktu kurang lebih 3 bulan, setelah lebih kurang 10% penderita akan mengalami eksaserbasi/ rekuren. Urethretis non-gonorhoe yang belum dinamai Urethritis non-spesifik merupakan kelompok penyakit yang bukan disebabkan oleh gonokakus. Penyebabnya bisa Ureaplasma urealytikum, C.trachomatis, Staphylococus aureus, Streprococus pyogenes, C.albicans, T. vaginalis. Masa inkubasinya 1–3 minggu, gejalanya bisa asimsomatik, disini ketidaknyaman di urethra dan sekret yang mengandung polymorfonuklear. Pengobatan disesuaikan dengan penyebabnya, obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar